Seperti langit yang terkoyak oleh
petir
Seperti itulah batinku ketika kau
mangkir
Manisnya cinta bercampur pahit
getirBayangan dirimu seakan
abadi terukir
Cintamu semu bagaikan pelangi
Begitu indah namun hanya ilusi
Jeritan dan rintih tiada artiKami
kau tinggalkan melirih
Jiwaku kosong ketika ia pun
pergi
Aku sekarang sendiri
Menatap langit dengan air mata
tak henti
Langit pun menangis tiada
hentiMenggantikan aku yang
lelah menanti
Hampa mendera diriku
Dendam marah dan benci
meliputi auraku
Namun apa dayakuHarus
kuterima kenyataan tentang
dirimu
Masih teringat jelas di benakku
Kau serahkan aku sebagai silih
dirimuTanpa rasa iba kau tidak
membelaku
Sayatan demi sayatan ku terima
Seluruh jiwaku terluka
Kau melihatku dengan mata
terbukaTanpa mengucap sepatah
kata
Kini aku hanya bisa mendengar
nafasku
Yang terengah-engah mengais
setitik hidup yang hampir
sirnaAku letih ya Tuhan, biarlah
aku melepasnya
Kini dari tepi sungai belerang
Engkau selalu meratapi sebuah
batuBatu kusam yang akan
hilang oleh waktu
------------------------
Rasa Itu Tetap Ada
Senja Jingga bertengger di kaca
jendela
Aku duduk termenung terpesona
rona warna
Ku lihat bayanganmu di
kacaMemanggil lembut tanpa
kata
Air mata mulai menitik
Mengingat dirimu yang pergi
tanpa kata
Cinta luruh menjadi
dukaMengiringi setiap langkah
kaki tanpa suara
------------------------
Serpihan Hati Tidak Terganti
Ketika cinta mengetuk
Cinta menawarkan selubung
indah terkutuk
Ia melekat lemah lembut dan
eratIa mengeluarkan akar hasrat
penuh jerat
Ketika cinta pergi
Ia mencabik dengn keji
Luka dan gurat seakan tak
terobatiDan abadi berada di hati
------------------------